“Tidak ada sesuatu di luar teks”, demikian kata Derida. Ungkapan itu tampaknya tidaklah berlebihan. Sejarah keilmuan menunjukkan, bahwa tradisi keilmuan yang berkembang dan bisa dirunut selama ini berkiblat pada Barat. Meski peradaban dunia bermula dari Mesir, Mesopotamia, Babylonia, China, dan juga India, kenyataannya peradaban Barat-lah yang secara lengkap bisa disimak, dianalisis, untuk kemudian dikembangkan.

Teks menjadikan peradaban Barat begitu sahih. Teks Barat secara tekstual menghadirkan bukti lengkap sebagai patokan untuk dirunut. Barangkali ini pula yang kemudian memunculkan ungkapan populer di kalangan sejarawan, no history without document. Bahwa, sebuah peradaban akan musnah ketika hanya didasarkan pada tradisi lisan. Dalam teks, sebuah konsep pemikiran seolah-olah akan terus hidup, menyejarah, dan juga berkembang dari generasi ke generasi.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Harus kita akui betapa tradisi menulis tidak terbangun dengan baik. Begitu banyak peninggalan sejarah di Indonesia yang hadir sebagai bukti perkembangan peradaban, namun hampir tidak ada satu carik teks pun yang mampu menjelaskannya. Padahal kalau dilihat bentuk peninggalan-peninggalan ada, mengandung konstruk keilmuan yang sangat tinggi. Namun karena tidak ada teks yang bisa diacu, sehingga sulit untuk melacak bangunan keilmuannya. Bahkan seringkali segala yang hadir dijelaskan dengan tradisi lisan yang sangat tidak logis yang berbau mistis. Sebut saja misalnya keberadaan candi-candi di Bumi Jawa. Bangunan candi sesungguhnya mengandung nilai arsitektur sangat tinggi. Inilah fakta bahwa ilmu tata rancang bangun pada masanya sudah sangat maju. Namun, sangat sulit menemukan penjelasan tekstual yang menyatakan bagaimana serta teknik apa yang digunakan dalam membangunnya.

Rendahnya tradisi menulis inilah yang kemudian awet sampai saat ini, termasuk di kalangan guru maupun dosen sekalipun. Sangat sulit menemukan tulisan-tulisan guru di panggung ilmiah, apalagi ilmiah populer. Pada 2010 lalu, Kompas menulis ihwal lemahnya kemampuan guru menulis ilmiah tersebut. Penyebabnya macam-macam, tetapi umumnya antara lain karena lemahnya kesadaran pentingnya menulis, tidak tahu manfaat menulis, keterbatasan mengakses informasi sehingga tidak tahu apa yang harus ditulis, lemahya penguasaan metode ilmiah, kurangnya dorongan pimpinan sekolah kepada para guru untuk menulis. Khusus untuk dosen, penyebab yang lain adalah karena menulis dianggap membuang waktu dan tidak menguntungkan secara material.

Nah, rendahnya kemampuan dan minat menulis karya ilmiah juga berdampak pada mandeknya jenjang kepangkatan guru. Secara nasional, sebagian besar kepangkatan guru berhenti pada golongan IVa. Mengapa? Sebab, mulai golongan IVa ke atas kenaikan golongan mensyaratkan komponen dari penulisan karya ilmiah, selain komponen mengajar. Akibatnya, sekitar 2,6 juta guru hanya 0,87 persen yang bergolongan IVb, 0,07 persen golongan IVc, dan 0,02 persen golongan IVd.

Keharusan guru menulis ilmiah ini tertuang dalam Peraturan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Regulasi ini mengatur tentang pengembangan keprofesian berkelanjutan. Upaya ini dilakukan melalui pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitasnya. Pengembangan keprofesian berkelanjutan merupakan salah satu kegiatan yang dirancang untuk mewujudkan terbentuknya guru yang profesional. Unsur kegiatannya terdiri dari tiga kegiatan, antara lain publikasi ilmiah. Dengan demikian, penulisan ilmiah bagi guru merupakan sebuah keniscayaan profesi.

Alasan-alasan itulah yang kemudian mendorong Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (IKA UPI) untuk menginisiasi seminar yang secara khusus memberikan pelatihan penulisan ilmiah bagi para guru. Inisiasi ini sejalan dengan keberadaan IKA UPI sebagai sebagai wahana perjuangan dan komunikasi inter dan antaralumni serta wahana pengembangan diri dalam profesi kependidikan, keilmuan, dan kemasyarakatan sebagaimana tertuang dalam Mukadimah Anggaran Dasar IKA UPI. Terlebih bila menyimak fungsi IKA UPI sebagai fasilitator dan dinamisator bagi dan/atau antaralumni, almamater, dan dunia profesi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni serta membina aktualisasi, fungsionalisasi tugas, dan peran profesi alumni. Juga salah satu tugas pokok IKA UPI untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta profesi.

Pengembangan profesi melalui penulisan ilmiah menjadi demikian penting di tengah “musim kemarau” tulisan guru. IKA UPI berharap ikhtiar ini mampu memberi sumbangsih bagi pengembangan profesi guru, khususnya alumni UPI di tanah air. Lebih dari itu, IKA UPI berharap kegiatan ini menjadi sebuah upaya membangun tradisi baru di kalangan guru yang diharapkan mampu melestarikan ilmu pengetahuan secara berkelanjutan. Sebagaimana pesan imam Ali, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Sebab, verba volant, scripta manent: kata-kata akan sirna, dan tulisan membuatnya abadi.